Tampilkan postingan dengan label Puisi Rusak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Rusak. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 September 2011

Pengennya Aku Sich...

Pengennya aku sih.. selalu bersama..
Walau jauhnya jarak telah mengujinya..
Dan sering aku kalah olehnya..

Pengennya aku sebenarnya tetap bertegur sapa..
Meski tak bertatap mata tapi setidaknya dengan kiriman kata
Atau renyahnya suara jika tak terkendala pulsa..

Pengennya aku sejatinya takkan pernah melupa..
Sebab pernah terangkai cerita antara kita..
Dimana sering terkorbankan yang lainnya hanya untuk bisa bersama..

Pengennya aku aslinya semoga aku lekas kaya..
Punya uang banyak dan tak menjadi lupa daratan karenanya
Sebab aku ingin ajak kalian tamasya.. gratis plus naek pesawat pula..
Boleh kok bawa bola atau siapkan kamera..

Pengennya aku andai semua tak terengkuh juga..
Aku selalu pengen denger cerita kalian bahagia di sana..
Lihat kalian tetap tampan dan cantik jelita..
Dan yang paling penting tetap selalu riang dalam canda tanpa duka..

Nach.. pengenku yang terakhir adalah agar tak pernah kulupa berdoa..
Untuk kalian yang selalu mengingatkanku akan arti setia..
Dalam suka dan duka.. untung dan malang.. lagi tajir maupun kantong merana..
Akan satu cerita bagaimana mencari sahabat.. buat keturunan kita...
Apakah kita masih punya pengen yang sama??

Minggu, 17 Juli 2011

Aku Tahu Itu Pasti Dirimu..


Masih kuingat menjelang pagi ini hapeku berdering..
Sekali.. Dua kali.. dan Ketiga kalinya..
Dari nomor yang sama tanpa nama.. dan tak asing lagi..
Nomor lama yang terngiang di kepala tanpa harus mengingatnya..

Sengaja tak kuangkat karena kutahu itu pasti dirimu..
Wanita terhebat yang pernah kutaklukan..
Wanita sempurna yang pernah memelukku..
Wanita terbaik yang sempat berbagi kasih sayang..
Wanita tercantik.. ah bener gak ya.. hahaha... yang pernah kucium tentunya..

Tak ada SMS kecewamu.. atau paling tidak apa maksud panggilanmu..
Tiada susulan panggilan lagi dari nomormu..
Semenit.. lima menit.. hingga puisi rusak ini selesai kuketik..
Tak ada lagi follow up dari kejadian tadi di hapeku..
Padahal mungkin kau tak tahu kan..
Aku begitu menginginkan hal itu..

Itu pasti dirimu.. yang kangen dengan suaraku..
Jangan bohong! Tak mungkin aku gede rasa untuk kali ini..
Firasatku berkata seperti itu.. seperti beberapa tahun yang lalu..
Ini pasti karena lantunan doamu untukku setiap hari..
Membuatku mampu memutuskan untuk berpikir di luar nalarku..
Menarik pelatuk dari laras panjang emosiku yang mulai meninggi..
Duar!! Dan aku melesat bagai sang peluru.. meninggalkan tahunan kisahku..

Di ujung pergantian hari.. akupun tersenyum sendiri..
Menyadari akan kemunafikanku untuk tak menerimamu lagi..
Membiarkan pantang dalam hidupku membelenggu..
Menghalangi rasa yang sebenarnya masih menggebu..
Aku kembali tersenyum geli..
Tanpa berpikir bahwa mungkin hapemu hilang dan ditemu orang..
Atau itu ulah iseng dari pendamping barumu..
Persetan.. aku masih percaya itu pasti dirimu..

Rabu, 06 Juli 2011

Kala Sesal Tak Lagi Kurasa

Dulu.. tatkala langkah ini kuawali..
Letih sering kurasa di akhir hari
Lelah sering kubawa dalam lelap tidurku menanti pagi
Dan gontai sering kualami saat coba tapakkan kaki
Diiring air mata yang malu kuakui sering jatuh di pipi
Ada gurat sesalku di sana.. mengapa kupilih jalan ini

Hitungan tahun yang lalu..
Kala mulai bisa menapak mantap
Akupun tiba-tiba dipaksa berlari
Kencang.. walau ujung tak kutahu pasti
Terjatuh.. berdarah.. namun aku masih bangkit lagi
Dan masih mencoba berlari walau kutahu ada batas raga ini
Kuingat sesal membekas di sana.. kenapa harus kuturuti

Beberapa waktu yang lalu..
Kala emas datang menghampiri
Masih kugenggam engkau sang perak
Rapat-rapat dalam tangkupan jemari mungilku
Tak kulepas walau sang emas menari menggoda
Sbab kuberharap kau berubah menjadi sama saat kubuka telapakku
Kembali sesalku membuncah.. kala kau masih tetaplah sang perak

Kini.. hari-hari ini..
Walau kan kususuri jalanan sunyi..
Berkawan panas dan goda dunia
Melawan harkat dan nurani
Meski belum penuh bekal di ranselku
Meski belum bisa terbang diriku
Namun senyumku mengembang sempurna
Karena sesal tak lagi kurasa..
Aku telah siap untuk semua rintang yang ada..